REKOLEKSI TUTUP TAHUN 2020

Menjelang penghujung tahun 2020, kami para suster Komunitas Cilacap mengadakan Rekoleksi Akhir Tahun. Rekoleksi ini diawali dengan konferensi dari Rm. Frans Kristi Adi, Pr dengan tema umum “Yesus Kristus Tetap sama baik kemarin, maupun hari ini dan selama-lamanya”. Ibrani 13:8

Dalam konferensi ini, Rm. Kristi menguraikan juga mengenai topik khusus “Dari Ego ke Let It Go, DARI RESENTMENT KE GRATITUDE”.

Apa yang dimaksud dengan Resentment?

Resenment adalah Kemarahan, kebencian, dendam, sakit hati, sebal, dendam. Penderitaan dan frustasi dari kekuatan rasional karena
disebabkan oleh emosi yang bertumpuk dan berlebihan.
Pusatnya: EGO

Resenment menurut Nelson Mandela itu ibarat minum racun dan kemudian mengharapkan itu akan membunuh musuhmu.

Apa sih yang dominan kurasakan di tahun 2020?

  • “Tahun AMBYAR?”
  • Rencana-rencana, resolusi-resolusi, idealisme semua gatot gara-gara PANDEMI COVID-19
  • Dampak sosial covid19 bagi masyarakat kecil juga besar. Sedang mereka harus bekerja untuk cari nafkah, mereka dirumahkan. Pengusaha harus membayar gaji karyawan padahal perekonomian memburuk. Anak-anak sekolah mulai tak betah hanya belajar dari rumah. Umat tak bisa ke Gereja, rayakan Ekaristi, dan terima komuni. Dan sudah sejak dua bulan terlewat, umat masih harus merawat kerinduan yang makin lama makin berat. Gelaran pernikahan yang sudah dipersiapkan dengan menghabiskan biaya besar pun batal. Yang pacaran makin ga bisa ketemuan (??).
  • SEGALA-GALANYA AMBYAR! (O ya???)

Bagaimana sikapku? ACUH TAK ACUH? ACEDIA (keadaan tanpa derita dan perhatian) Marah? Kecewa? Sakit hati? Frustasi? Depresi? Berdampak: menyalahkan orang lain, menyalahkan TUHAN, menyalahkan situasi, menyalahkan diri sendiri – RESENTMENT .

“Ketika senja datang” Senja digambarkan sebagai suasana menuju gelap yang memberi suasana rentan bahaya. Kata-kata itu dikutip oleh Paus Fransiskus dalam homilinya saat Adorasi bersama di mana ia memberikan berkat bagi seluruh dunia (Urbi et Orbi) pada tanggal 27 Maret 2020. “Ketika senja datang” adalah keterangan waktu yang mengawali kutipan teks Injil yang dibaca Paus saat adorasi ini: Markus 4:35-41. Paus menggambarkan situasi saat ini sebagai situasi kegelapan. /

“AWAN HITAM” Mimpi-mimpi indah yang remuk. – adanya tanda-tanda kemunduran dari mimpi indah tentang perdamaian dan kasih (konflik, perang, perpecahan, individualisme, egoisme, dll) – ensiklik fratelli tutti 9-12.

Pertanyaannya; Apa awan hitammu? Apa senjamu? Apakah ada rasa marah dalam hatimu? Karena apa? Apakah ada rasa kecewa, sakit hati, dan dendam dalam dirimu? Karena apa? Masih terus berpusat pada EGO, atau sudah siap LET IT GO? “Krisis terjadi ketika siapapun itu, bahkan kaum agamawan sekalipun, para politisi lebih mementingkan aku mendapat apa sebagai timbal balik dari apa yang aku lakukan. Perbuatan dilakukan demi kenikmatan diri sendiri-hasrat ego mereka sendiri, bukan demi nilai yang lebih luhur yaitu kemanusiaan. Sampai pada titik ini, lalu semoga kita memahami apa yang saya katakan tentang memuliakan Allah, mengangkat manusia, yaitu bahwa kedekatan kita dengan Tuhan bukan demi keselamatan aku sendiri, tapi bagaimana kasihku pada Allah, terpancar dari perbuatan baikku pula pada manusia. Atau dengan kata lain, demi kemanusiaan, tanpa pamrih.

GRATITUDE

Sikap yang membuat kita bisa melepaskan rasa marah dan menerima rahmat tersembunyi yang membuat talenta tersebut sebagai sumber kegembiraan dan pengharapan.

Resentment menghalangi tindakan baik kita, sedang gratitude mengundang kita menuju kemungkinan baru – arah maju – PERTOBATAN. Resentment membuat kita berhenti pada perasaan negatif saja, gratitude menuntun pada sikap “let it go”/melepaskan luka, dendam. Resentment membuat kita terpenjara dalam pikiran dan perasaan negatif. Gratitute mengajak kita untuk mengatasi rasa marah dan bergerak menuju panggilan Kristiani – mengasihi tanpa pamrih. Resentmen melelahkan kita dengan dengan ketidaksenangan, perasaan curiga, menyetir pada kerusakan dan balas dendam. Gratitude memberi kita sikap antusias, masuk dalam kedalaman diri mengatasi dunia dan tidak membiarkan kita kehilangan diri sendiri.

LATIHAN ROHANI YUK! (Tips beralih dari resentment ke gratitude) .

  • Awali dan Akhiri hari dengan RASA SYUKUR.
  • Beri waktu hening untuk mencermati gerakan dalam hati (ego/kesenangan diri atau let it go/ pemberian diri)
  • Mengampuni
  • Berbagi – tak hanya menerima

Gratitude adalah pondasi kebahagiaan. “Hidup bukan hanya sebuah runtutan interupsi dan komplain, tapi hidup diisi dengan kesabaran dan penuh kesadaran bagaimana Allah membentuk kita setiap hari.”

MERAWAT HARAPAN DENGAN RASA SYUKUR:

Fokuslah pada kebutuhan, bukan keinginan. Kalau tak perlu sekali tak perlu belanja banyak-banyak, keluar-keluar rumah. Tetap kreatif mengisi hidup. Jangan menyerah rebah, susah, dan gelisah. Usahakan ngobrol dengan teman, sahabat, baca buku, belajar dari orang lain. Dan jangan lupa peluklah kemanusiaan: peka, peduli, dan berbagi dengan orang lain, – bahkan jika itu berbagi dari kekurangan kita. Semangat pagi, karena meskipun senja datang – pagi juga akan tetap menjelang. Untuk bahan permenungan dari Perumpamaan tentang TALENTA Matius 25:14-30. SELAMAT REKOLEKSI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *