SEJARAH SINGKAT PBHK PAPUA

TANAH TERJANJI

            Pulau Irian disebut ”Tanah Terjanji” yang masih liar dan tidak dikenal. Pulau yang besar dan luas yang belum terjamah oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab. Pulau yag dihuni oleh kurang lebih 400 suku yang hidup tersebar di bagian barat Irian. Setiap suku berbeda dan unik, suatu dunia tersendiri. Masing-masing suku mempunyai pandangan hidup sendira, rangkaian legenda sendiri dan rasa humor sendiri.

            Pulau berawa dan berhutan yang membentang di hampir seluruh daratan Irian. Karena banyaknya air menyebabkan daerah Irian menjadi terkenal dengan penyakit Malaria. Masyarakat Irian sendira sangat akrab dengan alam kehudupan tanahnya yang menjadika sebuah kehidupan yang tidak akan pernah berkekurangan. Rawa dan sungai yang banyak terdapat jenis-jenis ikan dan binatang air yang dapat dimakan, hutan yang penuh dengan berbagai jenis satwa dan tumbuhan sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat Irian. Bumi yang menyimpan begitu banyak keajaiban Tuhan.

            Pulau yang menyimpan begitu banyak rahasia baik alamnya maupun manusia yang menghuni bumi Cenderawasi ini. Pulau Irian benar-benar sebuah pulau yang disebut ”Tanah Terjaji”. Pulau yang juga merupakan harapan bagi penyebaran Injil. Sebuah ladang subur untuk mewartakan Cinta Hati Kudus Yesus, karena disanalah hati-hati insani manusia membutuhkan kehadiran sebuah hati yang bisa menyilami alam kehidupan mereka.

            Saat misi penyebaran injil mulai berkembang di Kepulauan Kai, Para misionaris terus melyangkan pandangan pandangan ke pulau besar Irian Barat. Namun kesempatan untuk sampai untuk sampai kepulau ini belum terbuka mengingat belum diijinkan oleh pemerintah. Baru pada tanggal 11 jili 1891, pemerintah pusat memberikan ijin kepada Gereja untuk mengembabgkan karya misi di Irian Barat, bagian Barat Daya. Tempat  yang menjadi batu loncatan untuk sampai ke Irian Barat. Dengan terbukanya jalan ini, cita-cita para Misionaris Serikat Yesus( SY) dan para Misionaris Hati Kudus (MSC) untuk menyebarkan misi Penyebaran Kabar Gembira kebumi Cenderawasi ini semakin mempunyai peluang besar. Kemurahan kasih Allah begitu besar karena Tuhan sendiri memberkati cita-cita luhur ini.

            Maka setelah disepakati bersama oleh Dewan Provinsi MSC di Belanda, Irian Barat ditetapkan  menjadi wilayah misi bagi para MSC. Mulai saat itu usaha untuk menggapai Irian Barat terus di upaykan. Usaha itu dimulai dalam tahun 1896 (tepatnya tanggal 05 Maret 1896), P. Le Cocg, SY mendarat di Fak Fak. Namun tahun berikutnya beliau menunggal dalam keadaan kecelakan di pantai Mimika. Bulan Jini 1902, P. J.A. Mertens,SY berangkat ke Merauke. Disana beliau membuka stasi baru tetapi tidak berhasil dan ia kembali ke Kei.

            Pada tanggal 22 Desember 1902, vikariat Apostolik Batavia dibagi menjadi dua wilayah. Sebelah Timur Sulawesi di jadikan Prefektur Apostolik Nederlandsch Niue Guinne dan dserahkan kepada MSC. Dan yng menjadi Prefek Apostolik yang pertama aalah P. Dr. Mathias Neyes MSC yang berpusat di Langgur Kei kecil. Cita-cita untuk membuka misi di Irian Barat sudah diambang pintu. Tanggal 14 Agustus 1905, MSC memulai karya misinya di Irian. Daua Pater dan dua Bruder pertama datang dan menetap di Merauke.

            Dengan mulainya karya misi para MSC di bumi Irian ini, maka “Tanah Terjanji” itu terbuka bagi pewartaan kabar gembira. Dengan demikian juga jalan itu menjadi terbuka bagi para Putri Bunda Hati Kudus.

IMPIAN DAN HARAPAN YANG MENJADI KENYATAAN.

            ”Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu….”

            Gerakan keprihatinan Hati Yesus, telah menggerakkan hati para Misionaris Hati Kudus (MSC) di negeri Belanda untuk membuka suatu misi di Irian Barat. Kenginan itu dituliskan dalam surat P.S.H. Peeters, MSC tertanggal 16 Juni 1892, kepada Superior MSC, P. Jules Chevalier di Issoudun Perancis. Sebagai pendiri Tarekat Misionaris hatiKudus, P>J> Chevalier mendukung cita-cita para MSC untuk mengembangkan sayap misinya ke Irian Barat.

            Pada tanggal 04 Maret 1896, Dewan Pimpinan Provinsi MSC di Belanda sepakat menerima misi itu. Jalan bagi karya para FDNSC untuk ikut ambil bagian dalam misi itu menjadi terbuka. Walaupun saat itu belum tiba, karena segalanya masih berada dalam rencana-rencana hati-Nya.

            Dalam tahun 1920, cita-cita karya misi itu menjadi kenyataan. Tarekat Putri Bunda Hati Kudus (FDNSC) memulai permulaan misinya dengan ikut serta dalam karya misi para MSC di Pasifik, menggantikan Suster-suter dari Heythuizen.

            Dengan disemangati oleh semboyan ”Semoga Hati Kudus Yesus Dikasihi di mana-mana” memberikan kekuatan dan keyakinan bagi para Misionaris untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan cinta Allah yang terjelma dalam Hati Kudus Yesus di tanah misi yaitu Irian barat. Panggilan suci ini menguatkan para Misionaris muda yang saat itu masih sedikit jumlahnya untuk siap diutus ke daerah misi yang belum pernah mereka kenal.

            Pada tahun 1928, ketika Mgr. J. Aerts, MSC menjabat sebagai Perfek Apostolik dari Nieu Guinnea Selatan dan Maluku. Beliau menilis surat kepada Muder Angelina Zeyl (Superior Daerah di langgur). Dalam suratnya, Mgr. J. Aerts memohon bantuan tenaga suster untuk juga mengambil bagian dalam pewartaan Kerajaan allah di tanah misi Merauke. Dalam suratnya beliau juga menuliskan bahwa beliau telah mengusahakan sebuah biara kecil untuk para Suster. Selain itu, beliau telah menyiapkan sebuah gedung asrama dan sekolah untuk menampung anak-anak wanita dari kampung-kampung sekitar Merauke untuk dididik dan diajarkan. Ini sebagai awal karya para Suster FDNSC di tanah misi yang baru ini.

            Permintaan Mgr. J. Aerts mendapat sambutan baik, bak gayung tersambut dari Sr. Angelina dan bersedia mengirimkan tenaga misionaris ke Irian (Merauke). Tanggal 17 Oktober 1928, tiga misionaris pertama tiba di Merauke dengan kapal KPM yaitu :

  1. M. Adriana de Kort
  2. M. Christina Mommers
  3. M. Xaveria Mooman

Ketiga Suster ini didampingi oleh Mgr. Aerts sendiri dan misi Overstenya Sr. M. Angelina Zeyl. Walaupun Merauke suatu wilayah misi yang baru sama sekali bagi mereka, namun tidak mengubah semangat mereka untuk siap mewartakan Kabar Gembira Keselamatan bagi masyarakat Irian. Maka mulailah mereka membuka komunitas di Merauke yang sampai saat ini merupakan komunitas pusat bagikarya FDNSC daerah Irian (Merauke).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *