Komunitas Tegal

Puji Tuhan! Limpah syukur dan terima kasih, Allah yang adalah Kasih telah mengutus Para Suster PBHK (Komunitas) Belanda yang terpanggil dan bertekad bulat meninggalkan keluarga, saudara-saudari, kampung halaman dan negara mereka dan pergi ke Indonesia khususnya di daerah Tegal, Jawa Tengah. Untuk meluaskan Kerajaan Allah dan menyampaikan Kabar Sukacita Injil kepada semua orang yang perlu diselamatkan. Pada Tahun Baru 1929, gedung di Purworejo ternyata telah kosong. Tiga dari sekelompok yang terdiri dari empat Suster telah pergi ke arah Utara menuju Tegal dan mempersiapkan rumah untuk misionaris baru yang di tengah pelayaran. Bangunan ini adalah sebuah bangunan yang rendah dan lembab yang didirikan di dalam sebuah taman yang menyerupai hutan, di mana pohonpohon nyiur yang ramping menjulang tinggi ke angkasa di atas semak-semak tropis yang lebat – suatu tempat yang sering didatangi ular dan semacamnya. Ketika pada tanggal 13 Januari 1929 rombongan kedua dari negeri Belanda tiba ditempat yang tidak sedemikian siap, mereka menemui ketiga Suster dari Purworejo telah mempunyai kelas-kelas yang penuh, di dalam sebuah rumah yang besar dan baik, sedangkan satu bangunan kecil di dekatnya telah dijadikan biara. Rumah ini yang kemudian menjadi biara, mempunyai satu sejarah yang menarik. Sebenarnya bangunan tersebut telah dibuat untuk tempat liburan bagi Sultan Jogjakarta. Sesudah itu tempat tersebut telah didiami oleh pemilik-pemiliknya secara berurutan, sedang yang terakhir telah menggantung diri di tempat tersebut. Setelah itu tidak ada orang yang mau tinggal di situ dan tamannya telah menjadi tidak terurus. Akhirnya tempat itu telah diperoleh dengan jumlah uang yang sedikit oleh Mgr. B.J. Visser, bersama dengan sebuah rumah kecil lainnya yang ada di situ, yang pertama-tama menjadi biara. Tidak ada banyak waktu bagi para pendatang baru dari Tegal untuk menyadari keadaannya, karena tepat pada hari berikutnya sesudah kedatangan mereka, rombongan Purworejo segera kembali untuk mengurus sekolah-sekolah mereka sendiri. Para pendatang baru di tinggalkan sendiri untuk menghadapi kelas-kelas mereka yang terdiri dari anak-anak Cina. Alangkah sukarnya bagi mereka nama-nama Cina dengan tiga suku kata. Untuk memudahkan ingatan, mereka telah membubuhkan nama tiap anak di bangkunya. Tetapi anak-anak yang bandel itu, yang mengetahui bahwa guru-gurunya kebingungan, senantiasa bertukar-tukar tempat sehingga di kelas-kelas itu selalu saja terdengar gelak tertawa yang ramai. Akan tetapi Suster Augustina dengan cepat dapat menguasai keadaan. Beliau memberikan tiap anak sebuah nama Nasrani yang baru dan menyematkannya pada baju masing-masing anak. Bertahun-tahun sesudah meninggalkan sekolah banyak bekas muridnya masih memakai nama itu, yang telah mereka peroleh di dalam keadaan demikian. Tidak ada Karya penebusan akan menjadi kenyataan tanpa disertai Salib Kristus. Tidak lama kemudian telah menjadi maklum bagi Komunitas, bahwa kesehatan Ibu Augustina mulai berkurang. Sebelum datang ke Jawa, beliau telah menderita radang selaput dada, dan sudah jelas bahwa udara panas yang lembab dari Tegal yang terletak di dataran rendah sangat buruk baginya. Dokter telah mengatakan kepadanya, sebaiknya ia kembali ke negeri Belanda atau pergi ke tempat yang beriklim pegunungan. Sementara itu beliau telah dirawat oleh keluarga Katolik bangsa Belanda di tempat peristirahatannya di Toewel pada kaki gunung Slamet. Udara di sini telah membawa perbaikan bagi kesehatannya, tetapi tidak ada kemungkinan lagi untuk kembali ke kota pantai Tegal yang panas. Hal ini adalah suatu keadaan yang menyedihkan baik bagi beliau sendiri maupun bagi Komunitas Tegal. Akan tetapi – “Di dalam Salib ada kehidupan”. Kehidupan itu masih boleh para suster rasakan dan alami sampai saat ini melalui bentuk-bentuk cinta, perhatian dan pelayanan dari Romo Paroki Hati Kudus Yesus Tegal dalam kehidupan seharihari: l Setiap hari Jumat pukul 5.30, para suster dilayani Perayaan Ekaristi di Kapel susteran sebagai pembinaan rohani dari Romo Paroki kepada para suster; l Setiap rekoleksi Tutup Tahun, Romo Paroki memberi konferensi dan siraman rohani kepada para suster; l Para suster dilibatkan dalam pembinaan Iman Umat melalui kegiatan pembinaan iman anak (PIA), pembinaan iman remaja (PIR), Katekese, pendampingan orang muda katolik (OMK), Prodiakon dan kegiatan lingkungan. l Setiap bulan, Paroki memberi sejumlah uang utk sarapan karyawan pastoran; l Romo Paroki bekerjasama dengan Dewan Paroki membantu membayar SPP bagi para siswa yang khusus sekolah di TK – SD – SMP – SMA – SMK Pius yang orangtuanya perlu bantuan. Dalam hal ini mereka bekerjasama dengan para suster yang sedang bertugas di Yayasan Asti Dharma yang mengelola karya pendidikan. Selain itu juga pelayanan dalam bentuk Misa Kudus dan pembinaan bagi para Siswa di setiap jenjang Unit. Sampai sekarang, Kasih Allah senantiasa mengalir melalui para Donator yang setia membagikan kekayaan spiritual dan material mereka kepada para suster karena lewat kesaksian dan ungkapan bahwa mereka merasa dan mengalami kasih Allah lewat pelayanan para suster selama mereka berelasi dengan para suster PBHK. Maka sampai sekarang mereka, ‘Keluarga Chevalier’ tetap ‘care’ dengan kami generasi penerus cita-cita Pater Jules Chevalier yang hidup pada jaman ini. Semoga Tuhan selalu memampukan kami untuk bersyukur dan berbagi kasih lewat hidup dan pelayanan yang masih dipercayakan kepada kami para suster PBHK Komunitas Tegal bersama Umat yang dikasihi Allah. Kami akan selalu menghayati Visi Pater Pendiri ‘Semoga Hati Kudus Yesus’ dikasihi dimana-mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *