Komunitas Purworejo

Komunitas PBHK Purworejo yang sekarang ini beralamat di jln KH Wahid Hasyim no 7 Purworejo merupakan Rumah Biara Induk, Karena disinilah pada tanggal 4 Juni 1928 ada 4 suster misionaris PBHK dari Provinsi Belanda yaitu; Sr Patrisia Lemijen, Sr Mariana Diekman, Sr Valeria Sehneidars, Sr Cresensia Van Hasselt. Mereka tiba di Jawa langsung menuju kota Purworejo tepatnya di Jalan Melati no 5 sekarang Jalan Kyi Wahid Hasyim no 7 Purworejo. Karena itu sampai sekarang Purworejo menjadi pusat pembinaan awal Postulan dan Novisiat, juga komunitas suster- suster yang sudah berkaul. Di Purworejo ini mereka mulai berkarya
sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, karya misi permulaan ialah ; Taman kanak-kanak, SD ( HJS)Pantiasuhandan pastoral. Padamasa-masa
permulaan karya misi tentu segala sesuatunya tidaklah berjalan dengan lancer, sungguh banyak kesulitan kesulitan yang dialaminya terutama
dalam keuangan yang masih dipusatkan satu kekuasaan kepalamisi yang menjadi Prefecture Apostolic dibawah Mgr BJ Visser MSC.
Dewan Provinsi di Negeri Belandapun tidaksanggup membantu, baik tambahan para suster maupun dengan bantuan keuangan untuk kebutuhan karya misi yang sudah ada di Purworejo. Tahun 1935 Sr Agustina Koelman sebagai misi yang pertama mengajak para suster semua
untuk bertekat membuat suatu keputusan dan bersepakat untuk tidak tergantung dalam soal keungan kepada pusat misi. Para suster dengan semangat membara bekerja giat dan penuh pengorbanan untuk meringankan beban keuangan, mereka mencoba mencari pekerjaan tetap dengan memberi pelajaran privat, mengetik, menyulam dan terutama pelajaran bahasa Belanda, karena untuk orang-orang Indonesia
danJawa, bahasa ini merupakan bahasa kemajuan (ngetren di jaman itu) untuk suatu kedudukan di masa pemerintahan Belanda. Dan dengan demikian krisis keuangan dapat teratasi. Sesuai dengan situasi yang ada karya misi di Purworejo mulai berkembangan dirintisnya Asrama
putri, dan pelayanan orang sakit kerumah-rumah kampung dengan membantu memberikan obat. Tahun 1940-1945 pecah perang dunia
kedua. Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, komunitas mengalami invansi Jepang. Orang orang Belanda termasuk suster-suster Belanda
dimasukan di kamp-kamp (penampungan) dan saat itu sekolah-sekolah dan asrama ditutup, Namun Panti asuhan tetap berjalan.
Tahun 1945 mendengar berita bahwa perang telah selesai, namun bulan September 1945 tentara Inggris datang. Maka diberitahukan bahwa suster
tidak boleh meninggalkan kamp (harus tinggal dibawah Palang Merah Internasinal). Karena situasi yang makin bahaya, serangan extrim bertambah hebat. Tahun 1948 SD dibuka lagi dalam gedung sewaan karena gedung SD dipakai untuk interniran. Saat itu ada 2 orang suster Belanda yang diberi SK oleh pemerintah untuk mengajar di SD Maria.
Tahun 1952 SMP Putridan SGA Putri diserahkan kepada suster. Tahun 1966 sebuah rumah disebelah barat susteran dibeli untuk merencanakan membuka klinik. Tanggal 16 Juli 1968 Klinik bersalin BKIA St Maria dan klinik keliling St Yusuf dibuka, Sr M Caroline Sudarwati mulai merintis klinik tersebut dan berkembang dengan baik sampai pada sekitartahun 1989. Namun dipertengahan jalan yaitu tahun 1990 BKIA dan klinik St Yusuf ditutup karena adanya program KB yang berhasil dan ada begitu banyak klinik berdiri di sekitar, baik swasta maupun pemerintah.
Demikian juga SMP dan SGA putri sebelumnya sudah disatukan SMP dan SGA putra dan kembali dikelola oleh Bruder FC. Gedung sekolah tersebut sekarang dipakai untuk Panti Asuhan Panti Rini. Asrama putri juga sempat beberapa tahun ditutup, namun pada tahun 2013 Asrama putri mulai dirintis kembali oleh Sr Bernarda, sayang hanya 1 tahun kemudian ditutup lagi, sedangkan anak asrama yang masih ada disuruh mencari
kost diluar. Tahun pelajaran 2015-2016 mencoba membuka kembali asrama putri, karena selalu ada beberapa orang menanyakan asrama putri sebab asrama putra sudah ada beberapa tahun lalu yang dikelola oleh Bruder FC. Untuk mengimbangi Asrama Putra yang sudah ada maka Asrama putri dibuka kembali. Sedangkan tujuan asrama putri diadakan lagi dengan tujuan : Agar para suster dapat melanyani kebutuhan masyarakat, Dapat bekerjasama dengan tarekat lain, Membantu mengembangkan Gereja melalui siswa-siswa SMP dan SMA Bruderan
(sekolah-sekolah katolik). Tahun 2016 Postulan dipindahkan ke Yogyakarta, gedung postulant diserahkan kembali kefungsi pertama yaitu digunakan sebagai Asrama Putri. Keadaan Biara masa kini telah berubah denah master plannya karena adanya pembangunan/ renovasi dengan bagian-bagian ruangan yang berbeda dengan masa lalu dan pembangunan itu terjadi pada tahun 1994. Sedangkan wajah depan masih tetap seperti dulu karena sebagai cagar budaya yang tidak boleh berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *