Komunitas Novisiat

Sebagaimana kita mengetahui dari buku sejarah, provinsi PBHK merupakan karya Roh Kudus yang di rintis oleh para Missionaris PBHK dari Belanda. Sr Patricia Leemijer, Sr Marianna Dieckmann, Sr Valeria Schneiders dan Sr Crescentia van Hasselt, mereka adalah para suster-suster missionaris yang memiliki jiwa pemberani, penuh iman dan sangat ulet. Setelah melalui berbagai cobaan, tantangan dan perjuangan sejak mereka datang di Indonesia pada tanggal 4 Juni 1928, mereka berhasil mendirikan beberapa komunitas dengan karya kerasulan yang mereka tangani yaitu di sekolah-sekolah, Panti Asuhan dan rumah sakit serta karya-karya pastoral lain. Ini sekelumit sejarah mengenai bagaimana awal mula pembinaan para calon suster PBHK jawa dimulai. Setelah melalui proses yang tidak mudah juga para suster Missionaris akhirnya memiliki calon penerus Tarekat dengan masuknya seorang calon suster dari Indonesia atau saat itu disebut pribumi. Seorang gadis Indonesia yang menjadi calon pertama adalah Maria Yosefa Sukini yang menjadi postulan dan novis pertama dari Indonesia. Maria Yosefa Sukini menjalani masa Postulan pada 26 Juli 1935 dan masa Novisiat pada 1 Februari 1936 dengan nama Sr Maria Silvestra PBHK di Tilburg-Belanda. Beliau mengikrarkan Kaul sementara pada 2 Februari 1937 di Tilburg. Dan karena situasi yang ada beliau meminta untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1939. Sekitar tahun 1942, Sr Agustina sebelum berangkat ke kamp (Jepang), beliau meminta Suster Silvestra untuk menemani 2 aspiran yang baru diterima di Purworejo. Dengan keberanian, kegigihan dan iman kepada Tuhan yang luar biasa Sr Silvestra terus berusaha untuk mendampingi para aspiran yang dipercayakan kepadanya ini. Namun untuk memperoleh ijin dari Biara induk di Perancis guna memulai masa Postulan dan untuk memulai masa Novisiat di Jawa dari Tahta Suci tidaklah mungkin karena situasi yang ada pada waktu itu. Melalui bantuan pastor Padmowidjojo MSC yang mempersembahkan Perayaan Ekaristi Kudus setiap bulan di Purworejo suster berusaha untuk mendapatkan ijin melalui Kedutaan Vatikan di Australia. Ijin tersebut dikabulkan pada tanggal 1 Februari 1943. Berkat surat ijin tersebut maka dimulailah masa postulant Maria Surtijah dari Yogyakarta dan Yohanita Sutamtijah dari Surakarta, dan tanggal 1 Februari 1944 mulailah masa novisiat mereka dan masing-masing dengan nama Suster Magdalena dan suster Armella. Selama masa Novisiat mereka mengenakan kain kebaya putih dan sluier putih. Tiga tahun kemudian tanggal 23-8-1946 baru ada seorang gadis dari Kutoarjo yang menyusul yaitu Maria Immaculata Siti Rohani (Sr Bernadeth). Tahun berikutnya 25-8-1947 masuk Catharina Setiyarti dari Sapuran Wonosobo (Sr M Ignatia). Tanggal 26-1-1948 masuk Adriana Kuswarinah dari Sedayu Pedes Yogyakarta. Tanggal 26-7-1948 masuk Veronica Martini kelahiran Purworejo Kalasan Yogyakarta (Sr Margaretha). Kelompok pertama mengikrarkan kaul sementara pada tanggal 25-8-1947. Pada tahun 1949 biara susteran diperkirakan kurang aman karena kompleks Gereja Pastoran, kantor Telkom digunakan sebagai ajang perang, sehingga para suster dan anak-anak yatim piatu untuk sementara mengungsi keluar kota, ke jalan Buntu Plaosan, kami diijinkan menempati gedung sekolah milik bruder Caritas Purworejo. Sudah barang tentu mengalami bermacam-macam kesulitan dan kekurangan untuk menanggung sejumlah jiwa yang harus dihidupi. Bayangkan bagaimana Sr M Silvestra berkiprah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari para suster menerima pekerjaan dari Bruder Caritas, yaitu membuat sumbu lilin untuk pabrik lilin para bruder. Sebagai upah tiap bulan diberi 1 kwintal beras. Para suster harus hidup sangat hemat, dan untuk itu sarapan pagi mereka makan bubur nasi atau jagung; siang makan nasi dan malam nasi jagung. Ketika situasi sudah agak aman mereka kembali ke biara. Namun karena masih ada kekawatiran maka para suster mengungsi ke Tegal dan yang tinggal di biara Purworejo hanya suster M Magdalena bersama dengan anak-anak yatim piatu. Ketika suasana sudah mulai membaik maka para suster kembali ke Purworejo bersama dengan para suster misionaris yang akan berkarya di Purworejo. Dari pengungsian di Tegal mendapat tambahan 2 (dua) orang gadis calon postulant PBHK. Perhatian kembali ditujukan untuk memikirkan kelangsungan status Novisiat PBHK. Melalui hubungan yang makin terbuka antara PBHK Jawa dengan biara induk di Perancis (Issoudun) maka diresmikanlah Novisiat PBHK di Purworejo pada tanggal 1 Juli 1947. Salah satu konsekuensi dari diresmikannya sebuah Novisiat adalah adanya seorang pemimpin di Novisiat, dan melalui persetujuan dari biara pusat di Issoudun maka dengan disertai doa dan terang Roh Kudus terpilihlah Sr M Godelieve de Blok PBHK dari Belanda sebagai pemimpin Novis yang pertama untuk daerah Jawa. Pada saat itu novis tahun ke II adalah Sr M Bernadeth dan Sr Ignatia; novis tahun I adalah Sr Clement dan Sr Margaretha; Postulan adalah Sr M Theresia Lasiyem dan Sr M Gabriella. Pada tahuntahun awal semua percakapan dilakukan dengan menggunakan bahasa Belanda namun mulai tahun 1951 mulai ada peralihan dari Indonesia menyesuaikan Belanda dan dari Belanda menyesuaikan Indonesia. Berikut para penanggung jawab untuk memimpin atau mendampingi para novis:

Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi berkaitan dengan kedudukan rumah Bina Novisiat adalah sebagai berikut: l Pada tahun 1970 (perencanaan awal tanggal 1 Januari 1970; Sejarah Provinsi Jawa) Novisiat dipindahkan dari Purworejo ke Grogol-Jakarta, guna memenuhi fasilitas yang lebih memadahi atau lebih baik untuk pembentukan kehidupan beragam kerasulan di dalam kongregasi. l Pada tanggal 26 Juli 1985 Novisiat dipindah kembali dari Grogol ke Purworejo. l Pada tahun 2004 bagunan Novisiat yang lama dibongkar dan direnovasi/dibangun sebagian dengan bangunan baru. Selama masa renovasi, keluarganovisiat untuk sementara mempergunakan asrama Purworejo . l Setelah renovasi/pembangunan tersebut selesai maka pada hari Jumat Kliwon, tanggal 02 Juni 2006 bangunan Novisiat diberkati oleh pastor Paroki Santa Perawan Maria Purworejo yaitu Romo Tarcisius Siswanto MSC. Berikut adalah gambaran perkembangan Panggilan dari sejak pertama kali adanya calon PBHK yang berasal dari Jawa hingga saat ini, ketika kita memasuki masa ke-90 tahun.

Perkembangan panggilan dalam Tarekat PBHK dapat di lihat dari Tabel yang ada, dari 10 Tahun pertama hingga 10 Tahun ke 9, dimana kita merayakan 90 Tahun kehadiran PBHK di Indonesia dan secara khusus di daerah Jawa ini. Kalau kita memperhatikan maka kita akan melihat bahwa pada awal kehadiran tarekat, calon yang masuk sedikit jumlahnya. Namun dengan perjalanan waktu para calon semakin bertumbuh dan bertumbuh hingga mencapai puncaknya ada pada 10 tahun ke 6 yaitu antara tahun 1986-1995 dengan jumlah novis I 108 orang dan novis II 70 orang dan yang sampai profesi 55 orang. Panggilan memang merupakan misteri yang kita tidak dapat menentukannya namun kita bisa untuk mengusahakannya. Karena Tuhan sendiri dan pribadi yang terpanggil yang menentukannya. Setelah masa kejayaan jumlah calon yang masuk maka saat turunnya jumlah calon itu juga kita alami setelahnya dan sampai sekarang ini. Bahkan pada tahun ajaran 2015/2016 sempat mengalami kekosongan jumlah calon yang masuk di Novisiat. Namun Bunda Hati Kudus tidak tinggal diam dan dia kembali menarik para calon untuk masuk dan bergabung dengan Tarekat kita. Saat ini kita juga patut bersyukur bahwa kita memiliki 3 suster novis pertama dan 6 postulan. Kita tetap bersatu mendukung mereka dengan doa dan pendampingan bagi mereka semua agar pada akhirnya mereka sungguh berani menjawab “Ya” atas undanganNya. Menjadi tantangan untuk kita para generasi penerus ini bagaimana kita mampu untuk melanjutkan karya para pionir itu sehingga semakin banyak orang akan terlayani dengan semangat dan kasih Bunda Hati Kudus dan Hati Kudus dalam diri para suster PBHK yang ada sekarang ini. Kita diajak untuk bersyukur atas anugerah para Misionaris PBHK yang telah mewariskan kekayaan Rohani dari Pater Pendiri Jules Chevalier dan ibu Rohani kita Ibu Marie Louise Hartzer kepada kita. Karena jasa dari merekalah maka kita ada dan menjadi seperti yang sekarang ini.Terimakasih juga kepada para Pionir di dalam tarekat yang mengalami banyak tantangan dan perjuangan di masa awal keberadaan tarekat kita di Jawa ini dan dengan kegigihan, kesungguhan dan iman, mereka berhasil menghantar kita pada masa ini. Dan secara khusus juga kepada para Magistra dan Socious yang telah mendampingi kita semua yang menjadi anggota PBHK dimana saja berada karena tanpa mereka kita tidak akan menjadi anggota tarekat tercinta ini yang belajar, mengalami, memiliki dan menghayati Kharisma dan Spiritualitas yang sama. Bersama Maria Bunda Hati Kudus agar Di kasihilah Hati Kudus Yesus di mana-mana. Selamat dan Proficiat atas 90 tahun PBHK di Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *